Artikel

Halaman ini berisi artikel-artikel yang ditulis oleh para guru, karyawan, siswa, alumni serta anggota keluarga besar SMPN 2 Megamendung lainnya. Artikel-artikel tersebut menyajikan tema yang beragam, baik menyangkut pendidikan, pengajaran, sosial, keagamaan, dll. Kami mengundang seluruh anggota keluarga besar SMPN 2 Megamendung untuk menyampaikan opininya di sini. Tulisan dapat dikirimkan melalui alamat email: smpn2_megamendung@yahoo.co.id. Tulisan akan dimuat setelah melalui proses penyuntingan.

PNF DAN TARGET PEMBERANTASAN BUTA AKSARA
Oleh : Muhamad A. Hakim

Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 menyatakan bahwa salah satu misi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih tegas lagi, Pasal 31 UUD 1945 menyatakan pentingnya pembangunan dalam bidang pendidikan, karena pendidikan dan pengajaran merupakan salah satu hak warga bangsa.
Dalam salah satu laporannya, UNESCO – sebuah organ PBB yang menangani bidang pendidikan – menyatakan bahwa salah satu permasalahan dunia sekarang ini adalah masih tingginya tingkat buta aksara. Laporan itu menyiratkan bahwa satu di antara tujuh orang penduduk dunia masih buta aksara. Dan mayoritas adalah kaum perempuan. Hal ini terutama ditemui di negara-negara dunia ketiga yang tergolong belum atau sedang berkembang. Oleh karena itu, PBB mencanangkan program “pendidikan untuk semua” (education for all). Artinya, semua penduduk dunia berhak untuk mendapatkan pendidikan.
Data dari Education for All Global Monitoring Report 2005 juga menunjukkan bahwa di seluruh dunia, sekitar 799 juta orang dewasa buta huruf dan 2,3% di antaranya atau sekitar 18,4 juta tinggal di Indonesia, membuat negara kita sebagai salah satu negara dengan populasi buta huruf terbesar di dunia (www.1001buku.org). Dengan kata lain, laporan itu juga menyatakan bahwa Indonesia termasuk negara yang memiliki tingkat literasi (keterbacaan) yang rendah.
Hal ini pun dibuktikan dengan masih rendahnya tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita dibandingkan dengan negara-negara lain, bahkan bila dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand serta negara-negara ASEAN lainnya. Indonesia baru menempati peringkat ke-108, satu tingkat di atas Vietnam yang memang lebih “muda” dari Indonesia.
Dalam konteks Indonesia, seiring dengan amanat UUD 1945, pembangunan bidang pendidikan merupakan suatu keharusan. Hal ini dimaksudkan agar hak untuk mendapatkan layanan pendidikan dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia.
Berbagai program pembangunan bidang pendidikan telah dicanangkan dan dijalankan oleh pemerintah, seperti digariskan dalam kebijakan pembangunan pendidikan tahun 2004-2009 yang meliputi peningkatan kualitas layanan serta pemerataan dan perluasan akses terhadap pendidikan. Baik melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal (PNF). Salah satu program itu adalah pencanangan gerakan wajib belajar pendidikan dasar (wajardikdas) sembilan tahun, yang terutama diarahkan bagi anak-anak usia 6 – 15 tahun, yakni anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Guna mendukung keberhasilan program tersebut, pemerintah memfasilitasi dengan pembangunan ruang kelas baru, unit sekolah baru, program kelas jauh, SMP terbuka, maupun melalui jalur lembaga-lembaga keagamaan semisal pesantren dan madrasah. Program wajardikdas sembilan tahun ini diharapkan akan tuntas pada tahun 2008 nanti.
Di sisi lain, kita juga masih menghadapi permasalahan menyangkut masih tingginya tingkat buta aksara di masyarakat kita. Apabila penuntasan buta aksara penduduk usia sekolah dapat terakomodasi melalui program wajar dikdas, tidak demikian halnya bagi penduduk yang telah melewati usia sekolah. Sementara, realitas yang ada menunjukkan bahwa rendahnya tingkat literasi (kemampuan baca-tulis dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari) juga dialami oleh masyarakat usia dewasa, bukan semata-mata pada penduduk usia sekolah.
Padahal, pemerintah mentargetkan bahwa pada 2009 nanti angka buta aksara harus dapat ditekan hingga di bawah 5 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Akankah hal ini dapat tercapai dalam waktu kurang dari dua tahun lagi, sementara sekarang ini angka buta aksara tersebut masih cukup tinggi?
Pada dasarnya, sudah sejak lama pemerintah melakukan berbagai terobosan guna meningkatkan layanan bagi penduduk yang masih mengalami buta aksara, antara lain dengan menawarkan program kesetaraan melalui jalur pendidikan nonformal (PNF), yakni program Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), maupun program Paket C (setara SMA). Hal ini dimaksudkan agar program pengentasan buta aksara dapat segera mencapai keberhasilan, artinya segenap lapisan penduduk minimal diharapkan memiliki kemampuan baca-tulis dan berhitung, guna menyerap berbagai informasi serta mampu berkomunikasi dengan baik. Dengan demikian, apabila tingkat pendidikannya meningkat, maka diharapkan tingkat kesejahteraannya akan meningkat pula.
Berbagai program telah dijalankan, namun realitas yang ada menunjukkan masih tingginya angka buta aksara, terutama pada lapisan penduduk usia dewasa dan perempuan. Hal ini tidak menunjukkan gagalnya program pemerintah, akan tetapi tingkat keberhasilannya yang belum memuaskan. Hal tersebut dipengaruhi berbagai faktor, antara lain masih rendahnya kesadaran masyarakat itu sendiri dalam melakukan perbaikan bagi dirinya.
Faktor lain yang juga turut mempengaruhi adalah kurangnya tenaga pendidik dan kependidikan yang memberikan layanan pendidikan jalur nonformal ini. Jumlah pendidik yang ada belum sebanding dengan kebutuhan. Jumlah guru pendidikan nonformal saat ini hanya 223.662 pendidik dari seharusnya 744.790 orang. Artinya, masih kekurangan 521.368 pendidik PNF (www.jugaguru.com).
Kurangnya jumlah tenaga guru pendidikan kesetaraan ini mejadi kendala yang cukup signifikan bagi upaya pengentasan buta aksara. Hal ini dapat dipahami, karena minat untuk menjadi guru PNF sejauh ini lebih karena panggilan jiwa, sebab penghargaan yang diterima dari segi materi sangat kurang. Sementara, jumlah pendidik PNF yang sudah berstatus PNS baru sekitar 10% saja dari jumlah yang ada.
Epilog
Seiring dengan perhatian pemerintah yang lebih besar terhadap bidang pendidikan serta peningkatan anggaran pendidikan dalam APBN, maka upaya penyelenggaraan program kesetaraan dan pendidikan nonformal pada umumnya, sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional, diharapkan akan lebih maksimal. Hal ini terutama untuk mengejar target pengurangan angka buta aksara sebesar 5 % dari jumlah penduduk pada 2009 nanti.
Dalam hal ini, pemerintah pun telah melakukan kerja sama dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan keagamaan. Karena masyarakat juga diharapkan akan turut membantu pemerintah dalam mengejar target tersebut di atas. Selama ini, telah banyak kelompok-kelompok masyarakat – baik yang dikelola LSM, organisasi kemasyarakatan, pesantren, majlis ta’lim, dll. – yang menerjunkan diri dalam upaya pemberantasan tuna aksara, meski dengan fasilitas dan dana terbatas. Oleh karena itu, pemerintah pun diharapkan lebih meningkatkan dukungannya bagi keberhasilan proses pendidikan kesetaraan pada kelompok-kelompok masyarakat tersebut.
Sesuai dengan hasil Temu Nasional Gerakan Percepatan Pemberantasan Buta Aksara tahun 2006 lalu, dukungan tersebut dapat dilakukan dalam bentuk program peningkatan motivasi, penyediaan sarana-prasarana, pendanaan, pelatihan SDM, serta monitoring yang efektif. Dan selayaknya, upaya pemberantasan buta aksara ini menjadi komitmen bersama antara pemerintah pusat dan daerah. Sehingga pemerintah daerah pun dituntut untuk lebih menunjukkan perhatiannya pada bidang pendidikan, baik formal maupun nonformal.[*]

Artikel ini dapat diklik di sini:

PNF Dan Target Pemberantasan Buta Aksara

Artikel lainnya:

2 responses to “Artikel

  1. Dear : SMP NEGERI 2 MEGAMENDUNG /

    KIRIM SALAM BUAT STAF GURU BESERTA PARA TATA USAHA. KHUSUSNYA BUAT BAPAK NANAG HIKAMATULLAH S.PD DAN DEDE KUSMAYADI S.PD YANG SANGAT BERJASA BESAR ATA KEMAJUAN TAEKWONDO DI SMP NEGERI 2 MEGAMENDUNG.
    MAJUKAN TERUS OLAHRAGA KHUSUSNYA SMP NEGERI 2 MEGAMENDUNG

    THANKS
    SANDY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s