30 Maret 2008

Kehilangan (lagi)….

ada kabar gembira bagi keluarga besar smp negeri 2 megamendung pada awal maret ini. beberapa orang sisa guru bantu telah mendapat es-ka SK pengangkatan ce-pe-en-es calon pegawai negeri sipil. artinya , apa yang ditunggu-tunggu selama ini oleh bapak-ibu guru itu, ‘akhirnya datang juga’ [maap ini bukan iklan acara tv, lho!]. ‘mimpi telah menjadi nyata’, ‘penantian tak siasia’, ’seperti mendapat durian runtuh’ [bukan 'ketiban durian runtuh'. itu mah cilaka atuh...], ’seperti bulan jatuh ke bumi’ [ini peribahasa baru, ya?], sunda: lir kasinugrahaan cahya bulan [naon deui ieu teh?]. pokoknya begitulah… banyak kata untuk mengekspresikan kabar happy suka ini. [eh, tasyakurannya jadi dengan sate maranggi?] yang jelas, kami semua turut bersyukur dan menunggu traktirannya kami ucapkan “selamat!” kepada bapak/ibu.

inilah wajah-wajah yang sumringah itu.

namun di sisi lain, keluarga besar smpn2megamendung harus melepas beberapa orang guru, sehubungan dengan [lagi-lagi...] penempatan mereka di tempat lain. bu nunie [kumaha damang?] saat ini telah menempati pos baru di sukaraja nu caket cibinong tea; bu imel guru pkn yang lagi belajar bahasa inggris [dah nyampe mana?] ditempatkan di ciomas yang lumayan jauh dari rumah [makin akrab dong sama motornya!]; mrs keke, our attractive english teacher, jadi mengajar bahasa nginternasional itu di cisarua [but, are you still delivering dougnut?]; pa aas [ini singkatan, lho] dan pa yusman pindah kelas dari 2 ke 1 (maksudnya dari megamendung 2 ke megamendung 1). dan yang penempatannya paling dekat jauh dari smpn2megamendung adalah pa hen yang guru olah raga jangkung itu. syukurlah, beberapa orang masih siap mengajar dan membantu kinerja smpn2megamendung.

sekali lagi kami ucapkan selamat jalan bagi yang akan meneruskan pengabdiannya di tempat lain. semoga ikatan silaturahmi tetap erat terjalin… [sad mood]

3 Februari 2008

Kehilangan…

Pada awal semester dua ini, keluarga besar SMPN 2 Megamendung harus kehilangan beberapa orang tenaga pengajar yang alih tugas ke tempat lain. Ibu Eli Nurhayati

eli.jpg

yang biasa berlangganan kereta mengajar tata boga, telah mutasi ke Bojonggede guna lebih mendekati tempat tinggalnya. Maklum, beliau tinggal jauh nian di Depok city sana.

Disusul Bu Sri Iriani, Pak Rachmat Nurhaji, serta Bu Hendarti yang telah diangkat menjadi PNS [selamat ya...!!!], juga harus meninggalkan SMPN 2 Megamendung karena mendapat penempatan di sekolah lain. Bu Sri yang pengajar IPS mendapat tugas baru di tetangga kecamatan SMPN 1 Ciawi. Pak Rahmat, guru PKn, mendapat tugas baru mengajar tata buku di SMPN 1 Cisarua. Sementara Bu Hendarti ini dia fotonya

hend.jpg

yang ditempatkan di Cigombong, masih dapat meneruskan mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. “Kasihan anak-anak kalau ditinggal sekarang, apalagi menjelang ujian nasional,” ujarnya.

Jauh sebelumnya, Bu Lela Zulkaedah, guru yang biasa mengutak-atik rumus matematika telah pulang kampung ke kota asalnya Bandung dan meneruskan tugasnya di sana.
Selamat jalan bapak/ibu, terima kasih atas pengabdiannya selama ini dan semoga mendapat tempat persemaian yang lebih baik di sekolah baru…

9 Januari 2008

Selamat Tahun Baru Hijriyyah

18-e.gif

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1429 H

Mari berhijrah menuju Profesionalitas…

1 Januari 2008

Selamat Tahun Baru

dua6.jpg

Keluarga Besar SMP Negeri 2 Megamendung Bogor

Mengucapkan:

SELAMAT TAHUN BARU 2008

“Semoga Tahun Baru membawa semangat baru.”

23 Desember 2007

Belajar Berqurban

“Ibadah qurban antara lain dimaksudkan untuk menguji sejauh mana keikhlasan dalam berbagi dengan orang lain,” demikian wejangan yang disampaikan Ustadz Drs. Agus Mulyadi sebelum dilaksanakan pemotongan hewan qurban di SMP Negeri 2 megamendung. Kegiatan pemotongan hewan qurban itu sendiri dilaksanakan dalam rangka men-syiar-kan dan memperingati hari besar Islam, Iedul Adha 1428 H. Kegiatan tersebut tepatnya diselenggarakan di kampus SMP Negeri 2 Megamendung pada 22 Desember 2007 yang lalu.
Dalam kegiatan tersebut, dilakukan pemotongan hewan qurban berupa 6 ekor domba yang merupakan hasil infaq para siswa, guru-guru, serta karyawan SMP Negeri 2 Megamendung. Daging hewan qurban kemudian didistribusikan kepada kaum dhuafa di lingkungan sekolah. Hal ini sejalan dengan tujuan dari kegiatan tersebut, yakni dalam rangka pembelajaran kepada para siswa agar mereka memiliki kesadaran untuk melaksanakan ibadah qurban sendiri kelak di kemudian hari.

qurban1.jpg

qurban2.jpg

qurban3.jpg

qurban4.jpg

qurban5.jpg

7 Desember 2007

“Generasi Nol Buku” Taufik Ismail

JAKARTA, JUMAT - Sastrawan Taufik Ismail mengkritik sistem pendidikan yang tidak memberi porsi besar terhadap pembiasaan membaca dan mengarang untuk para anak didik, sehingga hasilnyapun bisa disebut sebagai bagian dari “Generasi Nol Buku”.

Kritik itu disampaikan oleh Taufik ketika menerima Habibie Award 2007 dalam rangka memperingati ulang tahun kedelapan The Habibie Center di Hotel Gren Melia, Jakarta, Kamis (6/12).

Dalam makalahnya yang berjudul Generasi Nol Buku: Yang Rabun Membaca, Pincang Mengarang, Taufik mengaku, ia bersama puluhan ribu murid lain dari SMA-SMA di seluruh Tanah Air pada 1953-1956 sudah menjadi “Generasi Nol Buku”, yang “rabun membaca” dan ”pincang mengarang”. Generasi itu, menurut Taufik, jadi “rabun membaca” karena tidak mendapat tugas membaca melalui perpustakaan sekolah dan jadi “pincang mengarang”  lantaran tak ada latihan mengarang dalam pelajaran di sekolah.

Taufik membandingkan pelajaran membaca dan mengarang siswa Indonesia dengan siswa dari beberapa negara lain dalam sebuah survei sederhana. Hasilnya, mencengangkannya. Sementara pelajar Indonesia tidak mendapat tugas membaca dan mengarang, murid SMA di Amerika Serikat diharuskan membaca 32 buku. Bahkan, di negara berkembang Thailand, siswa SMA juga diharuskan membaca lima buku.

Kewajiban membaca dan mengarang, menurut Taufik, bukan bertujuan untuk membuat siswa menjadi sastrawan, melainkan untuk memiliki keahlian yang dibutuhkan di setiap profesi. “Membaca buku sastra mengasah dan menumbuhkan budaya baca buku secara umum. Latihan menulis mempersiapkan orang mampu menulis di bidang masing-masing,” ujarnya.

“Generasi Nol Buku” itulah yang kini, kata Taufik, menjadi warga Indonesia yang terpelajar serta memegang posisi menentukan arah negara di seluruh strata baik di pemerintahan mamupun di swasta. “Beberapa sebab mendasar amburadulnya Indonesia sekarang mungkin sekali karena, dalam fase pertumbuhan intelektual, mereka  membaca nol buku di sekolah,” ujarnya lagi.

Sebagai pemenang Habibie Award 2007, Taufik berhak atas medali, piagam penghargaan, dan hadiah uang sebesar 25 ribu dollar AS.

Para pemenang lainnya adalah Prof Dr Sri Widiyantoro dari bidang ilmu dasar, Prof Elin Yulinah Sukandar dari bidang ilmu kedokteran dan bioteknologi, dan Dr HC Rosihan Anwar dari bidang sosial.  

Habibie Award diberikan kepada perseorangan atau badan yang dinilai sangat aktif dan berjasa besar dalam menemukan, mengembangkan, dan menyebarluaskan berbagai kegiatan iptek yang baru serta bermanfaat secara berarti bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian. (Ant/ati) [ Sumber: http://www.kompas.com/ver1/Hiburan/0712/07/101235.htm ]

15 Nopember 2007

Selamat Datang!

Welcome to SMP Negeri 2 Megamendung’s blog!
Wilujeng sumping!
Ahlan wa sahlan…